Ayah….

Sejak pertama aku mengenalmu, tak pernah kurasakan cinta sebesar cintaku padamu. Walau pernah ada cinta lain mengisi hari dan hidupku, tapi tetap saja tak pernah bisa menghapus rasa itu dari hatiku.

Sejuta luka kulalui, sejuta air mata terkuras. Perjalanan penuh liku dan duri mengiringi kisah kita. Begitu banyak kenangan yang pernah tercipta. Sampai saatnya Tuhan menyatukan kita.

Ayah….

Seseorang itu pernah berarti dalam hidupku, tapi dia tidak lebih berarti darimu. Karena kenangan dan ikatan kita ternyata jauh lebih kuat dari kisah baru yang terlihat indah. Semua karena ternyata aku lebih mencintaimu…

Ayah….

Terkadang, aku merasa kuat menjalani semua ini. Tetapi, terkadang aku juga merasa begitu rapuh. Saat kau tak ada disisiku adalah saat terapuh dalam hari-hariku. Saat aku begitu merindukanmu adalah saat-saat yang paling menyiksa di tiap malamku.

Aku ingin berlalu, saat semua terasa begitu berat, begitu melelahkan. Saat luka dan kesakitan terus mendera dan menerpa jalanku. Ingin menghilang dan melupakan semua.

Aku hanya bisa terdiam membisu saat cintamu memudar. Semakin lama menjadi buram seperti bayangan. Bayangan yang terus dan terus kukejar tanpa henti. Walau sampai aku tertatih dan terseok kelelahan.

Aku adalah aku… bukan dia… bukan mereka…

Aku hanya ingin dicintai sebagai pendampingmu, disayang sebagai belahan jiwamu, dikasihi sebagai bunda dari anakmu…

Aku punya sejuta cinta untukmu ayah… haruskah menghilang satu persatu?