Tag

, , , , ,

Dear suamiku,

Melalui surat ini aku ingin memberitahukanmu bahwa aku pergi meninggalkanmu… Aku telah menjadi istri yang baik bagimu selama lebih dari 7 tahun. Tak ada lagi yang harus kubuktikan mengenai hal itu.

Namun dua minggu terakhir ini rasanya seperti di neraka…

Atasanmu di kantor menelponku dan mengatakan bahwa kamu berhenti bekerja. Minggu lalu kamu pulang ke rumah tanpa menyadari bahwa aku telah memotong rambutku seperti idolamu Agnes Monica. Padahal waktu itu juga aku membuatkanmu masakan favoritmu, semur jengkol. Namun itu hanya kau sentuh selama dua menit.

“MU lawan Liverpool malam ini…” katamu langsung ke depan televisi.

Aku tidur dengan lingerie yang kubeli tadi sore di ITC, pun tidak kau sentuh. Tak ada lagikah kata cinta untukku?

Adakah kata-kata yang masih bisa dibicarakan? Hal -hal sepele di pagi hari hanya untuk menghangatkan kemesraan sebagai suami istri?

Aku memang tidak mengetahui apakah kamu memiliki ‘wanita idaman lain.’

Namun, apapun sebabnya……, aku pergi….

Mantan Istrimu,P.S. Tak usah mencariku. Abangmu Eric, mengajakku ke Bali, untuk memulai hidup baru.

—————————————————-

Dear mantan istriku,

Benar adanya kita telah menikah selama 7 tahun. Namun menjadi istri yang baik di mata suami bukan ditentukan hanya dari hitungan waktu saja.

Aku menyadari model rambut terbarumu, tapi aku diam saja, karena menurutku kamu salah memilih salon. Model itu bukan seperti Agnes Monica, tapi lebih mirip ‘Rahmat.’ Lebih baik diam daripada berkata jujur tapi menyakitkan. Itu nasehat ibuku.

Waktu kamu bilang membuat masakan favoritku, aku bingung…. Aku memang suka jengkol… tapi bukan disemur. Yang sangat menyukai semur jengkol itu Abangku.

Mengenai lingerie itu, aku melihat label harganya masih tercantum di bagian belakang, seharga Rp 490,000. Entah apakah itu kebetulan saja pada pagi harinya abangku meminjam uang dariku sebesar Rp 500,000.

Sesungguhnya aku masih mencintaimu. Aku sangat menyayangkan perpisahan ini.

Maka saat aku memenangkan tender besar untuk mengaudit perusahaan ‘blue chips’, aku berniat untuk memulai perusahaan sendiri, Kantor Akuntan Publik Reynold Kusnandar & Co, dan memutuskan untuk berhenti bekerja. Tapi suatu hal terjadi pasti karena memang ada hikmahnya kan…

Semoga kamu bisa hidup baru dengan bahagia seperti yang kau inginkan. Surat darimu telah diperiksa oleh pengacara kenalanku, dan memastikan bahwa kamu tidak bisa mendapatkan sepeser pun dari hasil perusahaan baruku ini.

Jaga diri baik-baik.

Tertanda,

Mantan suamimu, Pemilik Kantor Akuntan Publik, Reynold Kusnandar & Co

P.S. Aku lupa memberitahukanmu suatu hal, Abangku, Eric, terlahir dengan nama Erica (perempuan) . . . Aku harap hal itu bukan masalah