Tag

, , , , , ,

Setelah pesta selesai, setelah gaun pengantin ditanggalkan, mari bergegas menyadari bahwa pernikahan adalah tugas.

Pernikahan bukan cuma pesta, kemesraan dan cinta, tapi disana juga ada cemburu, sakit hati dan pertengkaran. Karena tugas terberat suatu pernikahan adalah mencapai seluruh kesepakatan.

Padahal berapa banyak kesepakatan yang harus kita taklukkan?

Tak terhingga. Karena hal-hal yang telah disepakati hari ini, telah bergeser lagi di esok hari. Terang yang kita peroleh hari ini, hanya bagian kecil dari lautan kegelapan yang ada di esok hari.

Kesepakatan adalah cerita yang tak pernah selesai, lorong tanpa ujung, sumur tanpa dasar. Makin kita telusuri makin terasa jauhnya. Makin didekati, makin ia tak teraba.

Lorong kehidupan ini begitu rumitnya, hingga cinta dan kemesraan saja tak sanggup mengurainya.

Untuk hidup didalamnya hanya ada satu cara : Menjadi “Manusia Selengkapnya”. Tetapi betapa kita cenderung tergoda untuk kembali kepada manusia yang tak lengkap.

Manusia yang cuma bisa menerima kegembiraan, tapi menolak kesedihan dalam hidupnya.

Manusia yang hanya mencintai kemudahan tapi menolak kesulitan.

Manusia yang cuma mengerti dan menuntut Kemesraan tapi menghindar, menolak pertengkaran.

Padahal ujian kelengkapan itu ada dibalik rasa “benci” yang ternyata bisa kita akrabi, kejengkelan yang ternyata bisa kita sukai, kesalahan yang selalu bisa pula kita “ma’afkan” dan tekanan yang bisa kita lumpuhkan dengan “kesabaran hati” dan “tawakal” kepada NYA.

Maka, setelah pesta ini usai dan setelah “gaun pengantin” ini ditanggalkan mari bergegas menyambut kenyataan, bahwa hal-hal yang kita tidak sukai bisa datang kapan saja, suatu hal yang tak pernah kita pilih bisa nyelonong begitu saja dan banyak hal yang tidak kita sukai bisa “memaksa” kita untuk mengambilnya.

Pada akhirnya kita memang tak bisa “memungut” cuma yang kita suka.

Berat, tapi apa boleh buat.

Begitulah hidup.