Tag

, , , ,

Bertobat…

Kata itu mungkin sangat sering kita dengar. Bahkan dalam setiap kesempatan ceramah keagamaan, para pemuka agama sering menyerukan dan menghimbau kita untuk melakukan pertobatan. Tetapi, apakah semudah itu untuk bertobat?

Sangat mudah mengucapkan kata ‘saya sudah bertobat’, tetapi sangat sulit untuk benar-benar bertobat dan tidak melakukan kesalahan lagi.  Sering kita tergoda untuk melakukan perbuatan yang salah itu lagi karena berbagai macam alasan. Entah dikucilkan dari pergaulan, kemerosotan ekonomi, bahkan sampai dijauhi keluarga.

Pertobatan mempunyai 2 mata sisi yang sama-sama tajam, mempunyai resiko yang sama-sama besar. Tinggal bagaimana kita berani atau tidak untuk mengambil resiko yang ada untuk benar-benar melakukan hal yang benar. Saat kita belum bertobat, banyak orang yang menyalahkan kita, memandang rendah dan tidak percaya pada kita. Tetapi, saat kita sudah bertobat-pun, masih banyak orang yang meragukan pertobatan kita.

Banyak orang yang masih terpaku pada masa lalu seseorang, seolah karena suatu kesalahan, orang tersebut tidak bisa lagi dipercaya dan dianggap benar. Sekali berbuat jahat, senantiasa dia akan dicurigai akan berbuat jahat. Padahal, bila dikembalikan kepada hati nurani kita masing-masing, tidak pernah ada yang bisa menyangkal bahwa kitapun pernah berbuat salah dalam hidup kita.

Lalu, kalau kita sendiri bisa dan boleh bertobat, mengapa kita tidak bisa menerima kesalahan dan pertobatan orang lain?