Tag

, , , , , , ,

Tadi pagi, saya melihat tayangan di televisi yang cukup menggelitik. Para anggota Badan Kehormatan DPR akan melakukan studi banding ke Yunani untuk mengetahui bagaimana cara parlemen Yunani mengatur anggotanya sehingga jarang terjadi percekcokan di ruang sidang.

Saya jadi mengerutkan kening melihat dan mendengar berita tersebut. Apalagi pendapat dari salah seorang pengamat politik yang menganggap studi banding tersebut tidak perlu dilakukan. Bahkan Ketua Badan Kehormatan sendiri, Bpk. Gayus Lumbun tidak ikut dalam rombongan yang akan berangkat karena merasa bahwa studi banding tersebut tidak perlu dan hanya menghamburkan uang rakyat saja.

Tapi, apa memang perlu studi banding hanya untuk melihat bagaimana parlemen mengatur anggotanya? Apakah mereka tidak bisa mencoba mengatur sendiri dan berefleksi mengapa mereka sering cekcok di ruang sidang? Bukankah bagaimana sidang berlangsung dengan baik bisa dilihat dari sikap mereka sendiri tanpa harus ke luar negeri? Kalau mereka bisa bersikap sportif, demokratis dan lapang dada, mungkin kericuhan di ruang sidang tidak harus terjadi.

Ada lagi studi banding yang akan dilakukan anggota DPR ke Amerika Serikat untuk melihat bagaimana pemerintah AS menanggulangi kemiskinan yang terjadi. Padahal kita tahu, dalam krisis perekonomian di AS, kemiskinan meningkat 14%.

Terkadang, kita melihat banyak sekali hal-hal yang janggal dalam studi banding yang dilakukan DPR. Terlihat bahwa studi banding tersebut hanya digunakan untuk sarana jalan-jalan dan rekreasi gratis yang dibiayai oleh negara.

Padahal, dari studi banding yang pernah dilakukan, sampai sekarang belum pernah terlihat hasil yang signifikan. Yang terlihat hanya kesenangan anggota dewan karena bisa jalan-jalan dan rekreasi ke luar negeri dengan gratis.

Lalu, masihkah studi banding perlu dilakukan?