Sekolah gratis iuran SPP (Sarana Prasarana Pendidikan).

Memang kalau dipikir-pikir, kondisi ini bisa meringankan beban masyarakat kita yang masih sering kesulitan dalam hal pembiayaan pendidikan. Akan tetapi, pernahkah pemerintah kita juga memikirkan akibatnya, terutama dalam hal fasilitas, kualitas, bahkan honor guru.

Saya pernah berdiskusi dengan teman-teman seprofesi tentang masalah ini. Banyak yang berpendapat bahwa selain sisi positif seperti di atas, banyak juga sisi negatif yang mungkin kurang dicermati pemerintah. Dalam hal fasilitas misalnya, dengan tidak adanya pembayaran SPP, sekolah harus menggantungkan diri kepada pemerintah untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam pemberian pelajaran terhadap siswa. Padahal, kita juga tahu terkadang bantuan atau dana dari pemerintah kita sangat sulit untuk dicairkan, atau bahkan terlalu banyak potongan untuk hal-hal yang sangat tidak masuk akal.

Hal ini juga berdampak dalam kualitas siswa. Dengan fasilitas yang (mungkin) seadanya, siswa juga akan mendapatkan pembelajaran yang seadanya. Belum lagi dengan dikuranginya kegiatan-kegiatan ekstra yang menunjang karena tidak ada biaya untuk melaksanakan kegiatan tersebut atau juga untuk membayar guru-guru pembina.

Ditambah lagi dengan melemahnya semangat belajar siswa karena anggapan bahwa sekolah sekarang lebih enak atau lebih gampang karena bidang studi yang diajarkan hanya berdasarkan dari buku-buku yang disediakan pemerintah tanpa ada pengembangan, jadi mereka merasa lebih santai. Dan banyak juga yang menganggap sekolah hanya sekedar formalitas, hanya supaya bisa membaca dan menulis bukan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang.

Pernahkah pemerintah berpikir juga tentang nasib guru-guru honorer? Guru honorer digaji dari sekolah, bukan dari pemerintah. Apabila sekolah digratiskan, darimana sekolah bisa membayar gaji para guru honorer? Apakah mereka akan dipecat dan tidak dipekerjakan lagi? Wah, tambah banyak dong pengangguran di Indonesia…..